BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

Beberapa tahun belakangan, pendidikan karakter menjadi fokus dari sejumlah sekolah, Bahkan ada yang memfokuskan diri sebagai “sekolah karakter” dan mengedepankan pendidikan karakter daripada hanya fokus pada pendidikan akademis. Pembentukan karakter membutuhkan proses yang panjang dan lama serta butuh konsistensi dari orang-orang disekitar, dan pendidikan karakter inipun dapat ditumbuhkan dan dipupuk sejak anak usia dini. Lingkungan sekolah sebagai lembaga yang punya kepentingan pembentukan karakter anak, perlu membangun budaya positif. Budaya positif di sekolah dapat berisi kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika budaya positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri anak. Budaya positif disekolah dapat ditumbuhkan melalui gerakan literasi sekolah, ekstrakurikuler, kegiatan awal dan akhir proses pembelajaran, membiasakan perilaku baik secara spontan, dan menetapkan tata tertib sekolah.

Sejalan dengan paparan di atas, salah satu materi yang diperoleh dalam program pendidikan guru penggerak adalah tentang bagaimana mengembangkan budaya positif di sekolah. Budaya positif ini dapat diawali dengan menumbuhkannya di kelas bersama siswa, misalnya membuat kesepakatan kelas sebelum proses pembelajaran dimulai. Kesepakatan kelas dengan siswa ini dapat dibuat di awal semester. Siswa bersama guru mengemukakan pendapatnya budaya positif apa saja yang akan disepakati dalam kelas, kemudian hasil dari beberapa pendapat tersebut yang telah disepakati oleh seluruh warga kelas dibuat secara tertulis, misalnya dibuat dalam bentuk poster, kemudian ditempel di dinding kelas dengan letak yang strategis sehingga mudah dibaca oleh warga kelas.

Pada kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring di masa pandemi Covid 19 ini, kesepakatan kelas dilakukan secara virtual menggunakan google jamboard. Siswa menuliskan pendapatnya dalam sticky note yang ada pada google jamboard. 

Hasil kesepakatan melalui google jamboard seperti pada gambar berikut ini :

Kesepakatan kelas tersebut akan diterapkan di kelas dan akan ditaati oleh warga kelas, apabila ada salah satu warga kelas yang melanggar kesepakatan maka akan diingatkan oleh warga kelas lainnya, selanjutnya kesepakatan ini akan ditinjau secara berkala, dengan cara guru melakukan evaluasi dan refleksi dengan melibatkan siswa. Melalui proses ini kesepakatan kelas tersebut menjadi lebih bermakna, sehingga apa yang ingin dicapai melalui kesepakatan kelas ini dapat terwujud. Lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa untuk memperoleh pembelajaran bermakna juga dapat diwujudkan. 

Agar siswa lebih dapat menginternalisasi kesepakatan kelas ini, hasil kesepakatan dapat dibuat dalam bentuk poster. Apabila pembelajaran berlangsung secara tatapmuka/luring maka poster tersebut dipasang di dinding kelas. Sedangkan pada pembelajaran daring seperti di masa pandemi ini, poster dapat diposting melalui media sosial oleh guru dan seluruh siswa.

Kesepakatan kelas dalam bentuk poster contohnya seperti berikut ini :

Harapannya dengan menerapkan budaya positif di kelas siswa dan guru akan semakin bersemangat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tanpa merasa tertekan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, baik dari penilaian sikap, pengetahuan, maupun keterampilannya, dan yang lebih utama adalah siswa menrasa nyaman berada dilingkungan kelasnya masing-masing. Demikian sedikit pemaparan tentang budaya positif di sekolah yaitu tentang kesepakatan kelas. Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan sehingga masih harus banyak belajar. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Source : https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/18/09214561/agar-anak-tumbuh-berkarakter-pastikan-sekolah-jalani-5-budaya-ini?page=all#:~:text=Budaya%20positif%20sekolah%20ini%20berisi,akan%20terbentuk%20pada%20diri%20anak. (diakses pada tanggal 2 April 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *